for more info and join +6281.850.6754

Surabaya, seperti halnya kota-kota besar lainnya, merupakan kota dengan tingkat kepadatan penduduk dan kebisingan aktifitasnya yang tinggi.
Setiap detik, jam, hari, telinga kita dipaksa untuk mendengarkan suara-suara berisik yang berasal dari lingkungan sekitar.
Suara-suara bising lalu lintas macet, deru pabrik, stasiun, terminal, bandar udara, tiap hari dijejalkan, tanpa bisa kita lawan.
Berangkat dari keadaan seperti itulah, kami, para pelaku seni alternatif di Surabaya tergerak untuk memberikan satu satire UNTUK MELAWAN KEBISINGAN tersebut. derau "alam rimba" kota tersebut, melalui sebuah aksi seni instalasi suara yang bertajuk, "MELAWAN KEBISINGAN KOTA". Jika Grafitti di tembok adalah bentuk vandalisme rupa, maka ini adalah VANDALISME SUARA.

"Sepanjang jalan adalah panggung kami.. audiens ada di mana-mana!"


Text

Sep 26, 2014
@ 4:33 am
Permalink

Surabaya Noise Scene: Piranti Noise Bertenaga Panel Surya

image

Surabaya Noise Scene, Membawa Kebisingan Ke Level “Mudah-Murah-Elegan” Dengan Menciptakan Piranti Bertenaga Panel Surya.

Kebutuhan akan piranti noise yang menyalak, gahar, namun portabel demi kebutuhan vandalisme “menyerang jalanan” membuat penggiat scene noise di Surabaya berpikir keras untuk menghasilkan piranti yang mampu mewadahi keinginan tersebut.

Setelah melalui brainstorming ide berkali-kali, trial and error, dan ketelatenan berburu piranti elektronik bekas, akhirnya berhasil merakit piranti yang murah (berbahan baku barang-barang bekas), menggunakan panel tenaga surya sebagai sumber energi. Sampai dengan artikel ini ditulis, kami (YY Klepto Opera dan Toyol Sebelum Masehi) baru saja berkeliling pasar loak stasiun kereta Sepanjang, untuk menyempurnakan piranti tersebut.


Text

Apr 25, 2014
@ 12:15 am
Permalink

Melawan Kebisingan Kota (an interview)

interview by: Marcel Thee

  1. Untuk kami yang buta info sama sekali, apa sih sebenarnya Melawan Kebisingan Kota ini? Apa tujuannya? Apa pemicunya? Apa bentuknya?

-          Konsep dari Melawan Kebisingan Kota sendiri sebenarnya sudah saya pikirkan sejak lama, draft konsepnya saya bagi-bagikan ke beberapa orang yg kompeten untuk sekedar sharing seperti apa bentuknya kelak. Beberapa teman seperti ivan stupidzero dan wok the rock turut menyumbangkan ide dasar. Dalam draft tersebut disebutkan bahwa ini adalah instalasi suara dalam wujud experimental jalanan, sebagai satire sinis akan sebuah perlawanan dari kemuakan akan kota yang teramat bising, macet, polusi berlebihan yang bersifat permanent dan tak mungkin dilawan. Team inti dari Melawan Kebisingan Kota sendiri terdiri dari tiga orang :

-          Iyan Fabian     : Media/propaganda

-          Toyol               : Mekanik/Host bagi talent yang ingin perform

-          Dan saya sendiri (YY) : Kurator/koordinator dan penanggung jawab di lapangan.
Bentuk aksinya sendiri bermacam-macam, yang terlebih adalah kami melakukan itu dengan senang hati, bermain feedback, teriak-teriak, mengkonsletkan kabel-kabel hingga bersuara berisik dll.


2. Apa sebenarnya “kebisingan apatisme urban”? bagi anda? Dan seberapa crucialnya perlawanan terhadapa hal tersebut menurut lo?

-          Sikap apatisme terhadap pola tatanan kota yang tidak mungkin bisa dirubah, tetap semrawut siapapun pemimpinnya. Sekali lagi ini hanyalah kritikan, sebuah satir bagi kaum urban itu sendiri  yang tinggal di kota-kota, yang turut andil besar dalam menambah kebisingan. Analoginya, mengeluh terhadap kemacetan panjang, padahal dengan sendirinya, dengan berada disitu, mereka jg turut andil dalam menambah kemacetan. Pemerintah Kota terus menambah pelayanan transportasi public, tapi tidak pernah selaras dengan jumlah kendaraan bermotor yang terus bertambah. Semoga kebisingan yang kami buat, menjadi bentuk pemikiran, bahwa hal tersebut mengganggu. Tapi kadang hal ini tidak selalu berhasil, karena ternyata mereka malah meluangkan sedikit waktu untuk menonton perform kami, bahkan dari beberapa aksi, hanya satu yang bersinggungan dengan aparat (see video : http://www.youtube.com/watch?v=dU9iLxXixxk)



     3. Bagaimana saja bentuk perlawanan yang akan dilakukan?

- kami terus aktif untuk mengajak orang-orang berpartisipasi dalam acara “bersenang-senang” ini, sehingga (semoga) tercipta sedikit kesadaran untuk mengurangi tingkat kebisingan/kesumpekan dimulai dari individu masing-masing. Bahwa membuat keributan di trotoar jalanan sama mengesalkannya bagi pengguna jalanan yang sedang melewati tempat tersebut. Sama halnya, seandainya knalpot motor ditaruh di depan, dan bukan di belakang, para pengemudi pasti akan terganggu dengan polusi knalpot mereka sendiri. Ke depannya, dalam waktu dekat, teman-teman yang berpartisipasi dalam aksi ini akan dibentuk sebuah klub bernama “BrandalSuara” dimana hanya anggota yang tahu pasti kapan dan dimana akan ada aksi.



4. Apakah “kota” yang dimaksud spesifik Surabaya? Bagaimana pendapat anda mengenai kota2 lainnya?

-          Ya, pada awalnya. Tapi sangat besar kemungkinan, hal ini bisa menyebar ke kota-kota lain. Beberapa kota sudah menyatakan siap. Bahkan di Jogja sendiri hal ini sudah lama ada, lewat “Jogja Noise Bombing”. Kita akan terus bersama-sama menyerang area public. Dan apabila graffiti/coretan tembok adalah vandalisme rupa, maka kami menganggap hal yang kami lakukan ini adalah vandalisme suara. “Sepanjang jalan adalah panggung kami, lighting dan audiens ada dimana-mana”

     **Terima Kasih**


Text

Feb 10, 2014
@ 3:45 am
Permalink

Guiguisuisui[鬼鬼祟祟] Indonesian Tour Diary

complete Source: http://www.aweh.tv/posts/guiguisuisui-2014-tour-part-iii/full

image

At sun down Tokoh came to pick me up for a street noise show in Sidoarjo. He explained that every Indonesia city has its own experimental and DIY scene, and each one has its own unique characteristic.

Sidoarjo’s vibe is all about homemade instruments, almost steampunk like contraptions with cogs and gears alongside wood and strings. They have formed a sort of club, meeting and performing in the streets, straight up noise invasions.

On that night we performed next to a busy road, on what looked like a bus stop but was simply a little concrete platform raised above the road with a roof over it. After waiting around for everyone to come an bring their instruments, amps, and batteries things got underway.

The passing headlights illuminated such a wonderful collection of instruments, most of which made The Diddly Board look quite tame, more like props out of Riddly Scott sci-fi flick. Tokoh played a meat grinder. I smashed around The Diddly Board with my screwdriver. More performers, droning electronics, masks, dissonant strings on steampunk guitars, instruments played with fire that I didn’t understand, masks, more angle grinders! Angle grinder versus steel cogs, sparks showering into the road, sparks bouncing off the The Diddly Board as I held it closer while I turned away to protect my eyes.

Finally three guys working electronics as two performers emerged from the darkness. One stripped down to his underwear and placed a plastic basket over his head, shoulders and arms, moving around the makeshift stage by the roadside with liquid elegance, improvised yet careful movements to the symphony of electronic noise. From the darkness the second performer emerged, also stripped down to his underwear. The performance spilled out into the road, a crowd of pedestrians and commuters having stopped to watch this bizarre spectacle. The second performed took out his dick and started pissing into road, the puddle spreading under the wheels of the passing cars. The performance ended as the figures melted back into the darkness and the electronic noise faded to the drone of the traffic.

“Let’s do it a dada.” - Blixa Bargeld


Video

Feb 6, 2014
@ 5:05 am
Permalink
2 notes

Noise Workshop and Experimental Performing

stage 7, Balai Pemasyarakatan - Medaeng, Surabaya


Video

Jan 29, 2014
@ 10:13 pm
Permalink
2 notes

Sebelum Masehi

Melawan Kebisingan Kota Stage 8

Halte GOR Sidoarjo

sekumpulan anak-anak muda berbakat yang berasal dari lingkungan belakang stasiun kereta api Sepanjang-Sidoarjo, membawa ke publik kegelapan okultisme, animisme-dinamisme pra sejarah.


Video

Jan 28, 2014
@ 11:39 pm
Permalink
2 notes

GuiGuiSuiSui (Beijing Garage Noise)

Melawan Kebisingan Kota Stage 8

Halte GOR Sidoarjo


Video

Jan 28, 2014
@ 7:43 pm
Permalink
3 notes

YY Klepto Opera AKA Tokoh Antagonist

Melawan Kebisingan Kota stage 8

Halte GOR Sidoarjo

Ini sedikit cerita tentang senjata bising yg sudah hampir 4 bulan ini saya kenalkan dan mainkan di mana2. Senjata bising ini terbuat dari penggiling daging bekas, yang bisa mengeluarkan suara menggerinda layaknya gitar2 grindcore. Kebetulan sekali, saya mendapat kesempatan mempromosikan alat tsb untuk presentasi di ITS sama anak2 waftlab.

Ide alat tsb sebenarnya sdh lama sekali, di utak atik hingga tanpa sengaja muncul dgn sendirinya. Sebenarnya, niat awal saya adalah membuat intunarumori, alat noise pertama kali di dunia, sudah saya gambar2, saya desain tp selalu gagal.

Yang membuat gagal adalah, saya tidak bisa menemukan jenis membran yg lentur, kuat dan tidak mudah robek meskipun tertembus senar bass. Sempat trpikir mnggunakan kulit hewan sbg membran, tp suaranya mungkin mendem, tdak nyaring kecuali alatnya besar seperti intunarumori asli. Tapi saya butuh alat yg flexibel,ringkas dibawa kemana2, dan bisa menimbulkan suara nyaring, maka intunarumori manual trpaksa dibatalkan.

Ketika ide sudah buntu, pikiran sdh mentok, disitulah jalan terbuka, bini saya menyuruh buang barang2 dapur yg jd sarang tikus. Disitulah nampak alat bekas penggiling daging/ikan yg sudah berkarat, punya mertua waktu dulu sering bikin pempek. Secara tekstur dan fungsi trnyata (menurut saya) penggiling daging ini hampir2 mirip dgn intunarumori, keinginan terjawab! tinggal realisasi.

Untuk urusan eksekusi alat saya serahkan ke Toyol Dolanan Nuklir, DIA AHLINYA! ide saya suara harus semirip mungkin dgn intunarumori.

Ternyata ada masalah sepele, senar bass ga bisa dipake bermusuhan dgn penggiling daging karatan, mudah putus dan harganya mahal. Masalahnya terpecahkan oleh si toyol, dia pake seling bekas rem sepeda kakeknya, mirip senar bass namun jauh lebih kuat, gratis tentu saja.

Nahh seperti inilah alat bising itu tercipta dan selalu saya bawa kemana2 tiap perform, siapa tahu diantara kalian ada yg sudah pernah melihatnya.


Video

Jan 27, 2014
@ 10:14 pm
Permalink
1 note

NOISE BRUT

MELAWAN KEBISINGAN KOTA STAGE 8

HALTE GOR SIDOARJO

yeahh! akhirnya bergabung dalam aksi ini para pemuda-pemuda berbakat dalam hal seni visual, art grafity, vandalism, etc, menampilkan kebuasan seni era sadomasoch pertengahan dan menunjukkan kembali ke jalanan, tempat yang sudah semestinya menerima kembali segala kemuakan.


Video

Jan 27, 2014
@ 8:44 pm
Permalink

BONNE HUMEUR PROVISOIRE - HAPPY LOSERS

LIVE @ MELAWAN KEBISINGAN KOTA STAGE 7

BALAI PEMASYARAKATAN SURABAYA


Text

Jan 20, 2014
@ 8:57 pm
Permalink

Melawan Kebisingan Kota with GuiGuiSuiSui

please join this illegal street show